PT Equity World Futures : Rupiah Ditutup Merayap Naik, Euro Bangkit dari Titik Terendah

Equity World Futures – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan sore,ditutup merayap naik, untuk melanjutkan tren positif sejak sesi siang tadi. Pergerakan mata uang Garuda yang naik turun mengiringi kebangkitan euro dari titik terendah di tengah kekhawatiran perlambatan ekonomi di Eropa.

Data Yahoo Finance menunjukkan rupiah berakhir menanjak pada level Rp14.130/USD atau semakin membaik dibanding penutupan sebelumnya Rp14.202/USD. Rupiah sepanjang hari ini bergerak pada level Rp14.125-Rp14.195/USD.

Menurut data Bloomberg di akhir perdagangan, rupiah bertengger ke level Rp14.133/USD atau menguat dari penutupan kemarin Rp14.209/USD. Pergerakan harian rupiah berada di kisaran Rp14.133-Rp14.213/USD.

Sementara, data SINDOnews bersumber dari Limas, rupiah sore ini berada pada level Rp14.180/USD. Posisi tersebut memperlihatkan rupiah jauh lebih baik dari sebelumnya di level Rp14.202/USD.

Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, rupiah masih berada pada jalur pelemahan di level Rp14.205/USD. Posisi ini memperlihatkan rupiah masih tak berdaya dibandingkan posisi perdagangan sebelumnya Rp14.192/USD.

Di sisi lain, euro naik dari posisi terendah empat bulan pada perdagangan menjelang akhir pekan setelah China mengisyaratkan kepercayaannya pada mata uang tunggal. Tetapi kekhawatiran atas perlambatan ekonomi di Eropa dan risiko politik Italia menahan laju perbaikan euro.

Tercatat euro rebound ke sedikit level 1,1725 saat berhadapan dengan euro, ketika sebelumnya menyentuh posisi terendah dalam enam bulan di 1,1676. Sebelumnya euro telah mengalami kemerosotan selama enam pekan secara beruntun terhadap USD untuk menjadi pelemahan  terpanjang sejak Januari 2015.

 

 

 

Equity World Futures

Advertisements

PT Equity World Futures : Mitos Angka 8: di 1998 dan 2008 Krisis Ekonomi, 2018 Bagaimana?

 Equity World Futures – Perekonomian Indonesia kembali bergejolak. Belum rampung permasalahan lesunya daya beli masyarakat, tiba-tiba dolar AS menguat drastis hingga menyentuh level Rp 14.200.

Banyak yang khawatir tahun ini bisa terjadi krisis. Layaknya mitos angka delapan atau siklus 10 tahunan, yang mana pada 1998 terjadi krisis moneter, lalu 2008 terjadi krisis keuangan global yang imbasnya terasa hingga ke Indonesia dan saat ini sudah 2018, apa yang akan terjadi?

Tentu tidak ada masyarakat Indonesia yang ingin terjadi krisis tahun ini. Pemerintah pun terus menegaskan bahwa perekonomian Indonesia masih stabil.

Namun setidaknya kita bisa berkaca pada pengalaman yang pernah terjadi sebelumnya.

Dari sisi nilai tukar, pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, dolar AS berada di kisaran Rp 2.000-2.500 karena Indonesia belum menganut rezim kurs mengambang. Orde Baru kala itu tidak mau tahu, dolar AS harus bertahan di level itu.

Namun karena kebijakan itu cadangan devisa RI terus tergerus untuk menjaga kurs. Akhirnya pemerintah membuka rupiah menjadi kurs mengambang. Akhirnya dolar AS mulai merangkak naik ke Rp 4.000 di akhir 1997, lanjut ke Rp 6.000 di awal 1998.

Pelemahan rupiah diperparah ketika kondisi keamanan dan politik Indonesia bergejolak. Pada Mei 1998, kerusuhan terjadi di mana-mana menuntut tunbangnya pemerintahan Orde Baru.

Sampai akhirnya rupiah jatuh tak berdaya saat dolar AS mencapai level Rp 16.650. Di situlah titik puncak krisis moneter. Banyak pihak swasta yang tak mampu membayar utang luar negerinya.

Perekonomian pun kacau balau. Ekonomi Indonesia tidak tumbuh bahkan -13,1%, harga-harga pangan melambung tinggi, inflasi pun meroket hingga 82,4%. Depresiasi rupiah mencapai 197%.

Kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dan ekonomi RI mendadak luntur. Banyak perbankan yang collapse lantaran terjadinya money rushatau penarikan dana dalam jumlah besar.

Bank Indonesia (BI) pun terpaksa memberikan bantuan likuiditas Rp 147,7 triliun kepada 48 bank. Meskipun ujung-ujungnya banyak dana yang diselewengkan. Rasio kredit bermasalah (NPL) perbankan saat itu juga mencapai 30%.

Total utang luar negeri pemerintah dan swasta saat itu mencapai US$ 150,8 miliar. Rasio utang pemerintah terhadap PDB pun mencapai 100%.
Lanjut ke siklus berikutnya di 2008. Krisis saat itu berbeda yakni krisis finansial global yang terjadi di banyak negara. Indonesia pun terkena imbasnya.

Krisis saat itu diawali pada 2007, saat persediaan rumah di AS untuk masyarakat menengah ke bawah membeludak. Namun saat itu banyak dari nasabah perumahan kelas bawah yang tak mampu membayar utangnya.

Alhasil institusi keuangan di AS banyak yang tumbang. Pengaruhnya ke banyak negara. Indonesia terkena imbasnya. Rupiah jatuh ke level Rp 8.000 hingga ke level Rp 12.650. Depresiasi rupiah mencapai 34,86%.

Meski begitu ekonomi Indonesia masih tumbuh meski turun ke level 4,12%. Namun inflasi melonjak hingga 12,14%, total utang pemerintah dan swasta mencapai US$ 155,8 miliar, rasio utang pemerintah terhadap PDB 27,4%.

Sementara cadangan devisa mencapai US$ 80,2 miliar. Rasio utang luar negeri terhadap cadangan devisa mencapi 3,1 kali.
Lalu bagaimana dengan tahun ini? Rupiah sudah melemah 4,64% dari awal tahun (year to date). Tercatat dolar AS menguat dari posisi awal tahun sekitar Rp 13.500 hingga menembus Rp 14.200.

Lalu menurut Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) yang diterbitkan Bank Indonesia (BI) menyebutkan jumlah utang luar negeri (ULN) secara total saat ini tercatat US$ 358,7 miliar atau setara dengan Rp 5.021 triliun (kurs Rp 14.000).

Sementara pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2018 mencapai 5,06%. Sedangkan cadangan devisa Indonesia pada akhir April 2018 tercatat US$ 124,9 miliar. Angka itu turun sekitar US$ 1,1 miliar dibandingkan dengan posisi akhir Maret 2018 sebesar US$ 126,0 miliar.

Sementara inflasi per April 2018 sebesar 0,10%, inflasi tahun kalender sebesar 1,09% dan inflasi tahun ke tahun sebesar Rp 3,41%.

Intinya kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini memang berbeda saat krisis moneter 1998 dan 2008. Namun kondisi ini patut menjadi perhatian pemerintah.

 

 

 

 

Equity World Futures

PT Equity World Futures : Harga Minyak Naik Dipicu Isu Suplai Venezuela dan Iran

  Equity World Futures – Harga minyak mentah merangkak naik pada perdagangan hari ini, dipicu kekhawatiran bahwa produksi dari Venezuela bisa turun lebih lanjut menyusul sengketa pemilihan presiden, serta potensi sanksi Amerika Serikat (AS) terhadap Iran.

Seperti diketahui, AS mempertegas sikapnya terhadap Iran dengan membuat daftar tuntutan kepada Negeri Mullah tersebut. Langkah itu dinilai akan dapat semakin mengekang ekspor minyak mentah dari Iran dan memicu meningkatnya harga minyak dunia.

Minyak mentah Brent berjangka kini berada di angka USD79,39 per barel, naik USD17 sen, atau 0,2% dari penutupan terakhir. Minyak Brent menembus angka USD80 per barel untuk pertama kalinya sejak November 2014 pada pekan lalu. Sementara, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di level USD72,47 per barel, naik USD23 sen, atau 0,3%.

“(Inventori minyak) ketat dan AS mungkin akan memperketat sanksi terhadap Venezuela yang akan membuat situasi di Venezuela lebih buruk dan yang berarti kita dapat mengharapkan terus menurunnya produksi Venezuela.

“Dikombinasikan dengan harapan untuk turunnya produksi Iran karena AS menekan sekutu untuk mengurangi impor mereka, ini akan mendorong harga minyak mentah hingga USD80 per barel dan kami pikir itu bisa lebih tinggi,” imbuhnya.

Presiden sosialis Venezuela, Nicolas Maduro, menghadapi kecaman internasional yang meluas setelah terpilih kembali akhir pekan lalu. AS secara aktif mempertimbangkan sanksi minyak terhadap Venezuela, di mana output telah turun hingga sepertiga dalam dua tahun ke yang terendah dalam beberapa dekade.

“Memperketat sanksi ekonomi akan sangat melumpuhkan kemampuan Venezuela untuk mengekspor, membuatnya hampir tidak mungkin bagi negara itu untuk memperoleh dolar,” kata Stephen Innes, Kepala Perdagangan untuk Asia Pasifik di broker berjangka OANDA di Singapura.

Sementara, kekhawatiran akan sanksi AS terhadap Iran akan mengekang ekspor minyak mentah negara itu juga telah meningkatkan harga minyak dalam beberapa pekan terakhir. Menuntut Iran melakukan perubahan besar – mulai dari menghentikan  program nuklirnya hingga menarik diri dari perang saudara Suriah – atau menghadapi sanksi ekonomi yang berat dari pemerintahan Trump.

Hal ini diyakini bisa mengurangi ekspor minyak Iran hingga 200.000 barel per hari pada kuartal keempat.

 

 

 

Equity World Futures

PT Equity World Futures : BI Repo Rate Tak Berdampak, Rupiah Diproyeksi Jatuh Rp14.300/USD

                  Equity World Futures – Nilai tukar rupiah terus mengalami kejatuhan dan diproyeksi terus melemah hingga Rp14.300/USD sampai akhir Mei. Efek dari kenaikan bunga acuan BI atau BI-7 days Reverse Repo Rate dinilai tidak terlalu berdampak positif ke pelaku pasar karena hanya naik 25 bps menjadi 4,5%.

“Respon BI agak terlambat dan hanya naik 25 bps bukan 50 bps. Sebelumnya investor sudah melakukan price in atau antisipasi kebijakan bunga acuan ke harga saham. Efek kenaikan bunga acuan juga tidak bisa menahan besarnya tekanan global,” kata Bhima saat dihubungi.

Salah satunya yield spread antara Treasury bills 10 tahun dan SBN makin lebar. Yield Treasury tenor 10 tahun naik cukup signifikan menjadi 3,11% sementara SBN ditenor yg sama saat ini sebesar 7,3%.

Ada spread 419 basis poin. Lebarnya perbedaan yield menjadi indikasi investor cenderung melepas kepemilikan SBN. Dia menuturkan, faktor lain karena Dolar Index terus mengalami kenaikan dalam 1 bulan terakhir menjadi 93,4. Dolar Index merupakan perbandingan kurs dolar AS dengan 6 mata uang paling dominan di dunia. “Jika dolar index naik artinya secara rata rata mata uang dolar semakin perkasa,” ungkap dia.

Sementara investor juga masih mencermati data ekonomi Global seperti laporan klaim pengangguran dan data manufaktur AS. Hal ini untuk menentukan arah kenaikan bunga acuan Fed rate berikutnya, khususnya bulan Juni mendatang di rapat FOMC.

Dari sisi global kekhawatiran perang dagang perlahan mereda setelah pertemuan delegasi AS dan China menyampaikan adanya niat dari China untuk lebih banyak mengimpor produk pangan dari AS. “Ini jadi sentimen positif karena berpengaruh ke kinerja ekspor Indonesia,” katanya.

Investor juga terus mengevaluasi data dalam negeri seperti pertumbuhan ekonomi yang stagnan, neraca perdagangan yg negatif di bulan April dan defisit transaksi berjalan kuartal I mencapai USD5,5 miliar. “Faktor domestik tersebut menekan rupiah,” imbuh dia.

Pemerintah bisa lakukan bauran kebijakan antara stimulus fiskal maupun moneter. Dari sisi fiskal kinerja ekspor memang perlu didorong lewat berbagai insentif seperti tax holiday bagi perusahaan yang berorientasi ekspor.

“Dan dari sisi moneter bisa terbitkan aturan tentang kewajiban devisa hasil ekspor ditahan dibank dalam negeri dalam kurun waktu minimum 6-9 bulan seperti yang dilakukan Thailand,” urainya.

Karena cukup mendesak, Ia menilai bentuk paling tepat yakni Perpu UU No.24/1999 tentang Lalu Lintas Devisa dan Sistem Nilai Tukar. Sementara sejak awal tahun Thailand berhasil mengalami apresiasi 1,6% (ytd).

Direktur Group Risiko dan Sistem Keuangan LPS Doddy Ariefianto menuturkan, rencana kenaikan Fed rate di tahun 2018 diperkirakan masih menjadi faktor utama penekan kinerja pasar obligasi global. “Kenaikan Fed rate berpotensi mendorong kenaikan yield obligasi global, termasuk Indonesia,”

Di sisi lain, potensi kenaikan Fed rate yang telah mendorong penguatan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama dunia juga turut memicu koreksi pada nilai tukar rupiah dan berdampak pada kinerja obligasi dalam negeri. Meski begitu, positifnya laju pertumbuhan ekonomi Indonesia diharapkan dapat menjadi sentimen positif bagi pasar obligasi.

 

 

 

Equity World Futures

PT Equity World Futures : Dolar Amerika Serikat Menang Lima Hari Beruntun

Equity World Futures – Dolar Amerika Serikat (USD) menguat ke level tertinggi lima bulan terhadap sekeranjang mata uang utama dunia pada Jumat waktu AS. Semakin berkibarnya dolar disebabkan melemahnya euro lantaran investor cemas atas kemenangan kelompok sayap kanan di Italia.

indeks USD yang mengukur greenback terhadap enam mata uang dunia, naik 0,10% ke level 93,64. Dengan hasil ini maka USD meraih kemenangan beruntun selama lima hari. Dan sepekan ini, USD sudah naik 1,3%. Secara total, mata uang George Washington telah meningkat 5% sejak pertengahan Februari 2018.

Kemenangan USD membuat euro jatuh ke level USD1,1753. Mata uang Uni Eropa ini telah menurun hampir 1,2% terhadap USD dalam sepekan ini, merupakan penurunan terburuk sejak 2015.

Kemenangan 5-Star Movement di Italia menjadi kabar tidak sedap bagi Uni Eropa. Gabungan partai-partai sayap kanan di Italia ini memang tidak senang dengan sikap liberal Uni Eropa. Italia sendiri menyumbang 15,4% dari PDB Uni Eropa namun tidak memberi dampak positif bagi Negeri Pizza.

Italia yang merupakan pendiri Uni Eropa bahkan berencana mengikuti Inggris untuk meninggalkan lembaga tersebut. Sikap tersebut membuat lembaga pemeringkat DBRS mengancam akan menurunkan rating kredit negara Italia.

“Pemerintahan yang anti Uni Eropa di Roma bisa mengguncang kepercayaan investor. Pada titik ini dapat membuat defisit fiskal yang lebih besar,” kata ahli strategi keuangan di CMC Markets David Madden.

Reli USD pada Jumat waktu AS juga membuatnya naik 0,2% terhadap yen Jepang menjadi 110,74 yen. Hal ini didukung oleh kenaikan imbal hasil Treasury 10-tahun AS menjadi 3,06%. Hasil ini menunjukkan prospek ekonomi yang optimis bagi Negeri Paman Sam.

Hanya saja, Kepala Ahli Strategi Mata Uang Scotiabank, Shaun Osborne mengatakan reli dolar bersifat sementara. “Saya melihat kenaikan dolar sebagai masalah sementara karena ada kekhawatiran di Eropa, dimana pertumbuhan ekonominya melambat dan munculnya ketidakpastian di sana,” ujarnya.

Sementara itu, Citibank mengatakan reli dolar tidak akan bertahan lama. Mereka mengatakan defisit anggaran AS diproyeksikan bubble hingga lebih USD1 triliun pada 2019 mendatang. Hal ini bisa menurunkan indeks dolar AS di masa datang.

 

 

 

Equity World Futures

PT Equity World Futures : BI Diprediksi Akan Kembali Naikkan Suku Bunga Acuan

Equity World Futures – Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara memprediksi Bank Indonesia (BI) masih akan menaikkan suku bunga acuan BI 7 day repo rate beberapa kali lagi.

Dia mengatakan, faktor yang mendorong BI menaikkan bunga acuan adalah karena tergerusnya cadangan devisa untuk stabilisasi nilai tukar rupiah. Sejak awal tahun 2018, cadangan devisa sudah tergerus sekitar USD7 miliar.

“Angka ini dikhawatirkan akan terus bertambah seiring pelemahan nilai tukar rupiah,” 
Dengan menaikkan bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) ke 4,5%, menurutnya BI berharap dana asing bisa tertahan dan tidak melanjutkan outflow. Dia memaparkan, sejak awal tahun investor asing terus melakukan penjualan bersih saham mencapai Rp39 triliun.

“Awalnya saya harap bunga acuan naik sampai 50 bps karena langkah BI kalau hanya menaikkan 25 bps sebenarnya cukup terlambat. Kalau hanya 25 bps efek ke rupiah hanya terapresiasi Rp100-200 rupiah per USD sehingga kurs besok hanya menguat ke Rp13.800-13.900, belum kembali ke titik fundamental Rp13.500,” jelas dia.

Adapun untuk tahun ini, dia memprediksi, BI akan menaikkan suku bunga acuan 2-3 kali lagi sehingga menjadi 4,75-5%.

“Pasalnya, bulan Juni nanti, akan ada rapat FOMC di mana The Fed sangat mungkin menaikkan bunga acuan yang kedua kali. Harapannya BI bisa respons dengan menaikkan bunga acuan lagi, karena investor biasanya berspekulasi dan bisa lemahkan rupiah,”

 

 

 

 

Equity World Futures 

PT Equity World Futures : Rupiah Dibuka Makin Parah hingga Sentuh Level Rp14.094/USD

Equity World Futures – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada sesi pagi perdagangan,dibuka semakin parah hingga mendekati level Rp14.100/USD. Kemerosotan rupiah yang tak terbendung terimbas penguatan USD ditopang lonjakan imbal hasil obligasi AS hingga di atas 3%.

Menurut kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, rupiah pagi ini dibuka pada level Rp14.094/USD. Posisi ini memperlihatkan rupiah semakin memburuk dibandingkan posisi perdagangan sebelumnya Rp14.020/USD.

Posisi rupiah berdasarkan data Bloomberg, pada sesi pembukaan berada di level Rp14.070/USD atau tak berdaya dari posisi perdagangan kemarin Rp14.037/USD, bahkan dalam pergerakannya hingga menyentuh level Rp14.095/USD. Pergerakan harian rupiah ada di kisaran Rp14.070-Rp14.097/USD.

Data Yahoo Finance menunjukkan rupiah pada awal sesi bertengger di posisi Rp14.092/USD atau jatuh sangat dalam dari posisi penutupan sebelumnya Rp14.032/USD. Rupiah pada pagi hari ini bergerak pada kisaran level Rp14.030-Rp14.095/USD.

Berdasarkan data SINDOnews bersumber dari Limas, rupiah di awal perdagangan hari ini menyusut ke level Rp14.093/USD. Posisi tersebut anjlok dari pergerakan sebelumnya Rp14.035/USD.

Di sisi lain, dolar mendekati level tertinggi lima bulan terhadap beberapa mata uang utama lainnya pada awal perdagangan Rabu, seperti dilansir Reuters. Penguatan USD terimbas membengkaknya imbal hasil obligasi AS hingga di atas 3% untuk menghidupkan kembali tenaga mata uang AS.

Indeks USD versus enam mata uang utama bertambah 0,1% menjadi 93,355. Sebelumnya reli menjadi 93,457 pada sesi semalam, atau tertinggi sejak 22 Desember. Greenback telah menguat, meski diterpa beberapa gangguan sejak pertengahan April untuk kemudian kembali bertenaga saat ketegangan di Semenanjung Korea semakin berkurang.

Ditambah tensi perdagangan antara China dan AS yang semakin memanas diyakini terus mereda untuk mencegah perang dagang. Sementara euro lebih rendah 0,1% pada level 1,1823 terhadap USD setelah sebelumnya berada pada posisi 1,1817 atau terlemah sejak akhir Desember.

Dolar juga mengalami sedikit perubahan di level 110,300 saat berhadapan dengan yen, setelah sempat naik menjadi 110,450 sebelumnya atau terkuat sejak 5 Februari. Yen Jepang hampir tidak beranjak setelah data menunjukkan ekonomi Jepang  mengalami kontraksi untuk pertama kalinya dalam sembilan kuartal selama Januari-Maret.

 

 

 

 

 

Equity World Futures