PT EquityWorld Futures : 2.000 Kontainer Produk Kopi dan Biskuit RI Diekspor ke Rusia

EquityWorld Futures – Produsen makanan dan minuman Mayora Group menargetkan akan mengekspor 2.000 kontainer ke Rusia tahun 2019, setelah berhasil mengirim produk kopinya sebanyak 1.000 kontainer ke negara Beruang Merah tahun lalu.

“Kami targetkan 2.000 kontainer dengan nilai USD40 juta karena selain produk kopi, kami juga akan mengekspor produk biskuit tahun ini,”

Andre menyampaikan hal tersebut pada acara Pelepasan Ekspor Mayora ke Rusia yang dihadiri Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Duta Besar Rusia untuk Indonesia He Lyudmila Vorobieva dan Direktur Jenderal Amerika Eropa Kementerian Luar Negeri Muhammad Anshor.

Andre menyampaikan, Rusia merupakan pasar potensial untuk Mayora, karena merupakan salah satu negara yang memiliki populasi penduduk yang tinggi dan tingkat pertumbuhan ekonomi yang baik,”

Pada kesempatan yang sama, Menteri Enggar mengapresiasi langkah Mayora yang mampu menembus pasar Rusia untuk produk-produk kopinya.

“Kami mengapresiasi dan mendorong agar Mayora dapat terus meningkatkan ekspornya, jangan hanya kopi, kalau bisa semua produk bisa menembus pasar Rusia,”

Sementara itu, dubes He Lyudmila optimistis bahwa hubungan antara Indonesia dan Rusia akan terus meningkat, tidak hanya hubungan diplomatik, namun juga hubungan perekonomian.

“Hubungan kedua negara saya yakini akan terus meningkat dan saya berharap hubungan perdagangan kedua negara juga akan semakin baik”.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

EquityWorld Futures

Advertisements

PT EquityWorld Futures : Akuisisi Lahan, Sejahteraraya Anugrahjaya Raih Pinjaman Rp100 Miliar

EquityWorld Futures – Danai pengembangan bisnis dengan menambah rumah sakit baru, PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ) sebagai pengelola rumahsakit Mayapada Hospital ini meraih dana pinjaman sebesar Rp100 miliar untuk membeli lahan. Informasi tersebut dilansir Harian Neraca.

Kata Arif Mualim, Direktur Sejahteraraya Anugrahjaya, fasilitas pinjaman ini diterima dari PT Bank Mayapada Internasional. “Jenis pinjaman ini adalah pinjaman tetap angsuran line yang diberikan kepada PT Sejahtera Inti Sentosa, anak usaha SRAJ dengan jangka waktu pinjaman 120 bulan dengan grace period 24 bulan,”

Bunga pinjaman ini sebesar 11% per tahun dengan provisi 1% flat. Nantinya, dananya untuk modal kerja pengembangan rumah sakit baru untuk menunjang keuntungan perusahaan di kemudian hari. Perusahaan memberikan jaminan corporate guarantee PT Sejahtera Inti Sentosa dan sebidang tanah seluas 20.000 m² di Babakan Madang, Bogor. Sebelumnya, perseroan telah membeli tiga bidang tanah di Bogor dengan nilai Rp37,5 miliar.

Disebutkan, pembayaran pertama dilakukan pada 12 Desember sebesar Rp1,87 miliar, pembayaran kedua sebesar Rp5,62 miliar pada tanggal 12 Januari 2019, serta pembayaran ketiga sampai dengan pembayaran kedua belas sebesar Rp3 miliar akan dibayarkan kepada penjual Arif Dharyanto dan Ana Thresyana setiap tanggal 12 Februari – November 2019.

Pembelian aset tanah untuk pengembangan rumah sakit di Bogor yang pendanaan berasal dari dana operasional perseroan dan tidak merupakan transaksi afiliasi. “Tujuannya untuk pengembangan usaha yang akan memberikan keuntungan di kemudian hari”.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

EquityWorld Futures

PT EquityWorld Futures : IHSG Sesi I Naik 18 Poin ke 6.551

EquityWorld Futures – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih bertahan di zona hijau pada perdagangan hari ini. Tercatat, IHSG naik 18,09 poin atau 0,27% ke 6.551,06.

Ada 203 saham menguat, 158 saham melemah, dan 140 saham stagnan. Transaksi perdagangan mencapai Rp4,13 triliun dari 6,72 miliar lembar saham diperdagangkan.

Indeks LQ45 naik 3,62 poin atau 0,3% menjadi 1.042, indeks Jakarta Islamic Index (JII) turun 0,32 poin atau 0,0% ke 726, indeks IDX30 naik 2,03 poin atau 0,4% ke 572 dan indeks MNC36 naik 1,59 poin atau 0,4% ke 376.

Adapun saham-saham yang bergerak dalam jajaran top gainers, antara lain saham PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM) naik Rp28 atau 11,97% ke Rp262, saham PT First Indo American Leasing Tbk (FINN) naik Rp5 atau 8,93% ke Rp61 dan saham PT Cottonindo Ariesta Tbk (KPAS) naik Rp12 atau 5,94% ke Rp214.

Sementara itu, saham-saham yang bergerak dalam jajaran top losers, antara lain saham PT Marga Abhinaya Abadi Tbk (MABA) turun Rp12 atau 8,70% ke Rp126, saham PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) turun Rp35 atau 4,14% ke Rp810 dan saham PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) turun Rp141 atau 4,08% ke Rp141.

 

 

 

 

 

 

 

EquityWorld Futures

PT EquityWorld Futures : Rupiah Menguat ke Rp13.900/USD, KSP: Indonesia Jadi Radar Investor Global

EquityWorld Futures – Nilai tukar Rupiahterhadap Dolar Amerika Serikat kembali menunjukkan penguatannya. Siang ini nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menyentuh angka Rp13.900 per USD.

Melansir Bloomberg Dollar Index, Pukul 12.30 WIB, Rupiah pada perdagangan spot exchange berada di level Rp13.985 per USD.

Menanggapi hal tersebut, Deputi III Kepala Staff Kepresidenan Denni Puspa Purbasari mengatakan, penguatan Rupiah belakangan ini menyusul adanya kepercayaan investor asing terhadap ekonomi Indonesia. Hal tersebut terlihat dari modal asing yang masuk ke Indonesia cukup besar.

Bank Indonesia (BI) mencatat aliran modal asing mencapai Rp19,2 triliun per 24 Januari 2019. Adapun rinciannya adalah Rp12,07 triliun masuk lewat pasar saham, Rp8,02 triliun ke Surat Berharga Negara (SBN) dan sisanya ke instrumen lainnya.

“Indonesia adalah salah satu radar investor global untuk jadi sasaran dana (asing) masuk,”

Menurut Denni, ada beberapa hal yang membuat aliran modal asing yang ,asuk ke Indonesia cukup besar. Salah satunya adalah karena tidak lagi agresifnya Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) untuk menaikan suku bunganya (Fed Fund Rate/FFR) pada tahun ini.

The Fed sendiri diprediksi hanya akan menaikkan suku bunga acuannya sebanyak 2 kali saja pada tahun ini. Hal tersebut terbukti pada awal 2019 ini, The Fed memutuskan untuk menahan suku bunga acuannya di level 2,25% hingga 2,50%.

“Barusan The Fed mengatakan bahwa akan gradually menaikkan, akan lebih patient,”

Menuruntya keputusan tersebut membuat para investor asing mengalihkan aliran modalnya ke negara-negara lain. Salah satunya adalah Indonesia yang dinilai memiliki potensi yang cukup besar jika dilihat dari pertumbuhan ekonomi.

“Dan kita tahulah aliran capital tidak mengalir ke sana (Amerika Serikat). Jadi banyak mengalir ke potensi ekonomi-ekonomi dunia,”

Ditambah lagi, lanjut Denni, para investor memandang jika Indonesia memiliki suku bunga yang cukup kompetetif. Hingga saat ini saja Bank Indonesia suku bunga acuannya di level 6,00%.

‘Karena kalau dilihat dari price earning ratio dan satunya lagi earning growth itu di Indonesia masih kompetitif. Jadi why not, kamu taruh lagi di Indonesia uangnya”.

 

 

 

 

 

 

 

 

EquityWorld Futures 

PT EquityWorld Futures : Indeks Dolar AS Rebound di Tengah Ketidakpastian Brexit

EquityWorld Futures – Kurs dolar AS berbalik menguat atau “rebound” pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB). Dolar menguat karena pound Inggris memperpanjang kerugiannya terhadap greenback, setelah amandemen yang ditunggu-tunggu untuk menunda Brexit ditolak oleh parlemen Inggris.

Para investor juga menunggu pidato Ketua Federal Reserve AS Jerome Powell yang dijadwalkan pada Rabu waktu setempat. Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) bank sentral AS memulai pertemuan kebijakan dua hari.

Pasar telah bertaruh tentang kemungkinan pelonggaran pengetatan moneter The Fed pada tahun ini, yang biasanya tidak menguntungkan bagi greenback di pasar valuta asing global.

Mengutip Antaranews, Pada akhir perdagangan New York, euro tidak berubah mendekati USD1,1427 dari USD1,1427 pada sesi sebelumnya, dan pound Inggris turun menjadi USD1,3100 dari USD1,3157 pada sesi sebelumnya. Dolar Australia turun menjadi USD0,7148 dari USD0,7165.

Dolar AS dibeli 109,27 yen Jepang, lebih rendah dari 109,35 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS naik menjadi 0,9950 franc Swiss dari 0,9916 franc Swiss, dan naik menjadi 1,3283 dolar Kanada dari 1,3256 dolar Kanada.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

EquityWorld Futures

PT EquityWorld Futures : Selain Relaksasi DNI, Perizinan Masih Jadi Masalah Utama Investasi

EquityWorld Futures – Pemerintah melalui Paket Kebijakan Ekonomi XVI telah mengeluarkan kebijakan relaksasi Daftar Negatif Investasi (DNI). Sejak diluncurkan, lantas seperti apa dampak terhadap investasi di Indonesia?

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani menilai, relaksasi DNI ini diharapkan bisa mendorong pertumbuhan investasi di dalam negeri. Namun sebenarnya masih ada faktor lain pendorong investasi yang dinilai pengusaha lebih penting yaitu soal kemudahan perizinan.

“DNI hanyalah salah satu aspek penting, tetapi bukan yang terpenting. Permasalahan utama di sini itu adalah perizinan. Hal ini dulu yang diperbaiki. Selain itu, kita juga perlu merumuskan kebijakan bagaimana investasi mereka tetap di sini, profitnya tidak semuanya dibawa keluar negeri sehingga berkontribusi terhadap perekonomian kita juga,”

Dia melanjutkan, sektor yang masuk dalam daftar relaksasi DNI juga sudah bisa dikelola sendiri oleh pengusaha dalam negeri. Sehingga sebenarnya relaksasi tersebut tidak mendesak untuk dilakukan.

“Revisi DNI ini juga banyak yang merupakan sektor yang sudah bisa dipegang pengusaha, tidak terlalu urgent”

Sementara itu, Pengamat Ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan, relaksasi DNI ini menjadi jalan bagi terjadinya liberalisasi ekonomi. Namun dampaknya justru kurang menguntungkan bagi ekonomi Indonesia.

“Liberalisasi dengan membuka pintu masuk bagi investor asing di sektor DNI itu berdampak negatif bagi perekonomian masyarakat. Investor boleh masuk tapi harusnya ada sharing dengan pemain lokal dan saham pengendali ada di pengusaha lokal, bukan 100% diberikan ke asing,”

Menurut Bhima, ada risiko yang harus dihadapi dari dibukanya DNI ini. Salah satunya yaitu pertumbuhan ekonomi yang semakin tidak inklusif lantaran kegiatan ekonomi akan dikuasai oleh investor skala besar saja.

“Jika ada profit pun akan ditransfer ke negara induknya. Ini yang membuat neraca pembayaran terus mengalami tekanan. Pendapatan investasi kita defisit USD31,2 miliar karena transfer modal keluar negeri. Repatriasi modal keluar negeri ujungnya merugikan rupiah dalam jangka panjang”.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

EquityWorld Futures

PT EquityWorld Futures : Apakah Sekarang Waktu yang Tepat untuk Membeli Saham?

EquityWorld Futures – Ketika Anda melihat tahun baru dengan pandangan segar, haruskah Anda melakukan pendekatan yang sama terhadap pasar saham?

“Jual (saham) di bulan Mei dan lupakan” adalah pepatah investasi kuno, merujuk pada kepercayaan tradisional bahwa saham menunjukkan kinerja yang lebih lemah di musim panas, dari Mei hingga Oktober, dan kinerja yang lebih kuat di musim dingin, dari November hingga April.

Menurut pepatah itu, Anda harus menjual saham di musim semi, tepat sebelum jeda musim panas, dan membelinya di musim gugur, tepat sebelum nilainya naik lagi. Kadang-kadang disebut juga dengan “indikator Halloween”.

Ada banyak kebenaran dalam hal ini. Temuan dari studi tahun 2002 menunjukkan bahwa pola ini berlaku di 36 dari 37 pasar maju dan berkembang yang dipelajari secara global, dan sangat kuat di Eropa.

Studi itu mencatat bukti-bukti bahwa temuan ini berlaku di Inggris, dan dapat ditelusuri ke belakang hingga 1694. Efeknya mungkin disebabkan oleh fluktuasi musiman dalam optimisme di kalangan investor.

Tapi ada pepatah lain yang menyarankan untuk berinvestasi di waktu lain dalam satu tahun, seperti “efek Januari” – kenaikan harga saham selama bulan pertama tahun ini – atau “reli Santa Claus” pada bulan Desember, dorongan serupa yang dikaitkan dengan optimisme musim liburan (dan bonus Natal).

Jadi, apa yang menyebabkannya? Apakah suatu waktu dalam setahun lebih baik daripada waktu lainnya untuk berinvestasi?

Menjual saham pada bulan Mei bukanlah apa yang sebenarnya dilakukan orang-orang. Peneliti AS dan Kanada menemukan bahwa investor lebih bullish (harga menguat) di musim semi dan berhati-hati di musim gugur.

Para penulis penelitian ini melihat bagaimana uang mengalir di antara berbagai kategori reksa dana dan menemukan bahwa orang lebih cenderung membeli aset berisiko di bulan-bulan yang lebih hangat, tetapi lebih tidak mau mengambil risiko di akhir tahun, kemungkinkan akan menjual aset berisiko lebih tinggi untuk membeli yang lebih aman.

Dalam sebuah studi yang diterbitkan pada tahun 2014, dua peneliti Jepang menggunakan teknik penambangan teks (text-mining) untuk menganalisis nuansa artikel surat kabar antara tahun 1986 hingga 2010.

Mereka menemukan optimisme yang meningkat pada paruh pertama tahun kalender, menghasilkan pesimisme di babak kedua. Asal usul siklus suasana musiman ini mungkin terletak pada musim itu sendiri.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

EquityWorld Futures