PT EquityWorld Futures : Penyaluran Kredit Maybank Capai Rp133,3 Triliun

EqutiyWorld Futures – PT Bank Maybank Indonesia Tbk (Maybank Indonesia) mencatat penyaluran kredit sebesar Rp133,3 triliun hingga akhir tahun 2018.

Jumlah itu tumbuh 6,3% dari Rp125,4 triliun pada periode sama tahun 2017. Kredit Community Financial Services (CFS) Nonritel yang terdiri dari kredit Mikro, Usaha Kecil, dan Menengah (UKM) serta Business Banking tumbuh 10,9% mencapai Rp58,3 triliun dari Rp52,6 triliun 2017, sementara kredit CFS Ritel meningkat 3,1% mencapai Rp44,0 triliun dari Rp42,7 triliun 2017.

”Perbankan global membukukan pertumbuhan kredit sebesar 2,9% mencapai Rp31,0 triliun sehubungan adanya pelunasan dipercepat dari beberapa nasabah korporasi pada kuartal IV/2018,”

Sementara itu, laba bersih setelah pajak dan kepentingan nonpengendali naik 21,6% mencapai Rp2,2 triliun didukung pendapatan bunga bersih yang lebih tinggi dan perbaikan kualitas aset. Laba sebelum pajak meningkat 20,5% mencapai rekor Rp3 triliun.

Pendapatan bunga bersih juga tumbuh 5,2% menjadi Rp8,1 triliun pada Desember 2018 dibandingkan Rp7,7 triliun pada 2017. Menurut Taswin, implementasi penerapan pricing yang disiplin perseroan secara berkelanjutan disertai efisiensi operasional yang meningkat memungkinkan Maybank menahan tekanan pada marjin bunga.

Dengan demikian, peningkatan marjin bunga bersih sebesar 7 basis poin menjadi 5,2%. Rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) yang lebih rendah sebesar 2,6% (gross) dan 1,5% (net) per 31 Desember 2018 dibanding 2,8% (gross) dan 1,7% (net) pada 2017.

Dia mengatakan, biaya overhead juga tetap terkendali dengan pertumbuhan marjinal sebesar 4% menjadi Rp6 triliun. Total simpanan nasabah turun 3,7% menjadi Rp116,8 triliun per Desember 2018 dibandingkan Rp121,3 triliun tahun lalu.

Perseroan juga tetap menjaga posisi modal yang kuat dengan total modal mencapai Rp26,1 triliun pada 2018. Menurut Taswin, penambahan modal melalui rights issue yang diselesaikan pada semester I/2018 meningkatkan modal Tier 1 sebesar Rp2,0 triliun sehingga rasio kecukupan modal meningkat menjadi 19,0% per 31 Desember 2018 dari 17,5% pada 2017.

Di sisi lain, untuk bisnis syariah mencatat laba bersih mencapai Rp803,3 miliar dengan total aset menjadi Rp30,2 triliun. Sedangkan total pembiayaan syariah tumbuh 14,6% dari Rp20,7 triliun per Desember 2017 menjadi Rp23,7 triliun per Desember 2018.

President Commissioner Maybank Indonesia dan Group President & CEO of Maybank, Datuk Abdul Farid Alias menuturkan, tingkat non performing financing (NPF) mencapai 2,8% (gross) dan 1,9% (net).

 

 

 

 

 

 

 

 

EquityWorld Futures

Advertisements

PT EquityWorld Futures : Pelindo III Siap Kucurkan Investasi Rp6,44 Triliun

EquityWorld Futures – PT Pelindo III (Persero) menyiapkan rencana investasi sebesar Rp6,4 triliun pada tahun ini. Investasi tersebut dialokasikan perseroan untuk membiayai sejumlah proyek strategis di seluruh wilayah kerja di tujuh provinsi.

Beberapa proyek merupakan pekerjaan multi years (tahun jamak) dan sejumlah proyek baru.

Direktur Utama Pelindo III Doso Agung mengatakan, dari rencana investasi tahun ini, 84% atau sekitar Rp5,4 triliun akan dialokasikan untuk proyek multi years dan 16% atau sekitar Rp1,04 triliun untuk membiayai proyek baru.

“Pekerjaan investasi kami tahun 2019 ini masih fokus pada penyelesaian pembangunan infrastruktur pelabuhan dan pendukungnya seperti akses jalan layang (fly over) yang menghubungan Terminal Teluk Lamong dengan jalan tol dan pembangunan Terminal Gilimas di Lombok Barat Nusa Tenggara Barat,”

Doso menyebut investasi yang dilakukan Pelindo III akan berdampak bagi operasional pelabuhan, jalan layang Terminal Teluk Lamong misalnya, keberadaan jalan akses tersebut akan mengurai kemacetan yang saat ini seringkali terjadi di jalan akses menuju Terminal Teluk Lamong. Dengan adanya jalan layang, jalan akses Terminal Teluk Lamong akan langsung terhubung dengan jalan tol Surabaya-Gresik.

“Contoh lain di Terminal Gilimas di Lombok Barat NTB, dulu kapal pesiar tidak bisa bersandar di Pelabuhan Lembar (pelabuhan eksisting) karena kendala kedalaman alur dan kolam pelabuhan, para wisatawan kapal pesiar terpaksa menaiki kapal-kapal kecil untuk mencapai dermaga. Dengan adanya Terminal Gilimas ini kapal pesiar dapat langsung bersandar dan menurunkan wisatawan di terminal pelabuhan. Selain itu juga akan mendukung Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika di NTB. Fly over Terminal Teluk Lamong dan Terminal Gilimas ini akan siap tahun 2019 ini,”

Pelindo III juga menyiapkan beberapa pekerjaan baru di 2019 seperti pembangunan terminal LNG di Pelabuhan Tanjung Perak, pemasangan sejumlah shore power connection di sejumlah pelabuhan, dan modernisasi peralatan bongkar muat di sejumlah pelabuhan yang dikelola oleh Pelindo III.

Doso mengungkapkan setiap perencanaan dan pelaksanaan investasi di Pelindo III selalu berpegang teguh pada aturan dan prinsip tata kelola perusahaan. Karena itu pihaknya pada akhir 2018 menggandeng Kejaksaan Agung untuk melakukan pendampingan melalui Tim Pengawalan, Pengamanan Pemerintahan dan Pembangunan Pusat (TP4P) dan Daerah (TP4D).

“Sumber pendanaan masih menggunakan kas internal perusahaan serta hasil dari pinjaman global (global bond) tahun 2018 lalu yang sebesar 500 juta dollar AS. Kami juga akan lakukan kerjasama baik dengan sinergi BUMN maupun pihak swasta serta mendorong optimalisasi sumber daya Pelindo III Group,”

Dari sisi operasional, Pelindo III menargetkan kenaikan arus petikemas menjadi 5,7 juta TEUs atau sebesar 7% jika dibandingkan dengan arus petikemas 2018 sebesar 5,3 juta TEUs.

Sekretaris Peusahaan Pelindo III Faruq Hidayat menyebut, kenaikan tersebut salah satunya dipicu oleh peningkatan arus petikemas di Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang seiring dengan selesainya pekerjaan pendalaman kolam pelabuhan dari sebelumnya minus 8 meter LWS (low water sping/rata-rata muka air laut) menjadi minus 12 LWS.

Selain itu juga terjadi peningkatan arus petikemas transhipment domestic yang dipicu oleh tarif khusus 65% dari tarif normal, dan peningkatan arus petikemas di Pelabuhan Banjarmasin, Pelabuhan Bagendang Sampit, dan Pelabuhan Bumiharjo.

“Di wilayah timur kami juga optimis meningkat seperti di Kupang karena ada pembangunan industri mangan di wilayah tersebut serta di Waingapu yang juga ada pembangunan industri gula,”

Untuk curah kering ditargetkan mencapai 72 juta ton atau meningkat tipis sekitar 1% dari tahun 2018 yang berkisar 71 juta ton. Sedangkan untuk curah cair ditargetkan sebesar 3,1 juta meter kubik atau meningkat 6 persen dari tahun 2018 yang berkisar 2,9 juta meter kubik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

EqutiyWorld Futures

PT EquityWorld Futures : Gejolak Ekonomi Global Masih Bayangi Pergerakan Rupiah

EquityWorld Futures – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada akhir perdagangan,  Berdasarkan data Yahoo Finance, melemah menjadi Rp14.065/ USD dibandingkan sebelumnya Rp14.035/USD.

Sementara menurut kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, rupiah tertahan pada zona merah menjadi Rp14.088/ USD. Nilai tukar rupiah kian melemah di pembukaan perdagangan pekan ini, walaupun penjualan ritel Indonesia melampaui ekspektasi dengan mencatat peningkatan 7,7% pada Desember 2018.

Meskipun penjualan ritel yang positif akan meningkatkan keyakinan terhadap kekuatan fundamental ekonomi Indonesia, pergerakan nilai tukar rupiah tetap sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal. Research Analyst FXTM Lukman Otunuga mengatakan, dolar Amerika Serikat (AS) yang menguat masih terus membebani kurs rupiah dan mata uang pasar berkembang lainnya.

Kombinasi apresiasi dolar AS dan kekhawatiran mengenai perlambatan pertumbuhan global mungkin menekan rupiah di jangka pendek. Namun, keputusan The Fed akan kecondongan untuk menunda kenaikan suku bunga (dovish) seharusnya akan membatasi penurunan.

“Perhatian investor akan tertuju pada data perdagangan yang dijadwalkan untuk dirilis pada hari ini (Rabu) yang mungkin memberi informasi tambahan mengenai keadaan ekonomi Indonesia,” ujar Lukman di Jakarta kemarin.

Menurut dia, data ini akan sangat dicermati untuk melihat pertanda dampak ketegangan dagang terhadap impor dan ekspor Indonesia. Nilai tukar rupiah dapat meningkat apabila data ekonomi Indonesia terus melampaui prediksi pasar.

“Rupiah dapat menyentuh Rp14.100 di jangka pendek apabila dolar AS terus menguat,”

Global Head of Currency Strategy & Market Research FXTM Jameel Ahmad menambahkan, hal lain yang mungkin memperkuat dolar AS adalah keadaan ekonomi Negeri Paman Sam tersebut yang terus mengesankan.

Pada saat yang sama, berbagai negara selain Amerika Serikat di pasar berkembang dan maju, juga menghadapi risiko negatif di ekonomi masing-masing. Menurut dia, posisi kebijakan suku bunga AS saat ini akan memungkinkan bank sentral lainnya menghentikan sementara pengetatan kebijakan moneter di negara masing-masing.

Karena bank sentral di seluruh dunia akan mempertahankan suku bunga atau cenderung melonggarkan, investor semakin tidak tertarik untuk melepas dolar AS. Prospek kebijakan moneter global yang dovish dan indikator kekuatan ekonomi Amerika Serikat yang semakin positif, akan membuat dolar AS semakin menarik.

“Hasil negosiasi dagang yang positif akan berdampak negatif pada dolar AS,” ujarnya. Sementara itu, apabila Presiden AS Donald Trump memberlakukan kenaikan tarif barang China pada 2 Maret 2019, dolar AS dapat semakin menguat.

“Walaupun kedua negara ini menghadapi berbagai hambatan politik dan ekonomi, pasar berharap bahwa kesepakatan dapat segera tercapai. Ini akan dianggap berdampak negatif pada dolar AS,”

Apabila kesepakatan berhasil disetujui di Washington untuk mendanai pemerintah AS dan di Beijing untuk menghindari kenaikan tarif, hal ini akan dianggap sebagai pemicu kembalinya sentimen risk-on .

Dengan kata lain, hal tersebut akan menjadi faktor penggerak penting terhadap kenaikan pasar saham global, permintaan mata uang pasar berkembang, dan komoditas seperti minyak. “Sebaliknya, ini adalah risiko yang dapat menghentikan reli dolar yang telah terjadi sejak Februari,”

Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai rupiah yang melemah dalam dua hari terakhir ini dipengaruhi oleh tren penguatan dolar AS terhadap beberapa mata uang utama seperti euro, pound sterling, yen.

Permintaan pada dolar AS yang meningkat didorong oleh risk averse sentiment karena pelaku pasar masih menunggu perkembangan negosiasi dagang antara pemerintah AS dan China, mengingat pemerintah Amerika Serikat menunda untuk menyesuaikan tarif impor produk China hingga akhir bulan ini.

“Pelaku pasar mengantisipasi skenario terburuk apabila tidak mencapai trade deal. Selain itu, terkait perang dagang, penguatan dolar AS juga pelemahan mata uang utama lainnya,”

Euro tertekan oleh rilis data-data ekonomi Jerman dan Euro zone, sementara pound sterling juga dipengaruhi negatif oleh ketidakpastian proses Brexit serta rilis data Inggris yang juga melambat salah satunya data produk domestik bruto (PDB) kuartal IV/2018.

Sementara itu, risiko global cenderung masih tinggi lantaran terdapat kemungkinan terjadinya shutdown pemerintahan AS, mengingat pembicaraan belanja keamanan perbatasan yang diajukan oleh pemerintah AS masih belum disepakati oleh parlemen. “Dari dalam negeri, faktor pelebaran defisit transaksi berjalan pada kuartal IV/2018 masih mendorong peningkatan volatilitas rupiah”.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

EquityWorld Futures

PT EquityWorld Futures : Wall Street Mixed, Investor Cermati Perundingan Dagang AS-China

EquityWorld Futures – Wall Street bergerak mixed pada penutupan perdagangan Senin, 11 Februari 2019. Bursa saham Amerika Serikat (AS) bergerak dua arah karena investor masih mencermati perundingan perdagangan AS dan China yang sedang berlangsung.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 53,22 poin atau 0,21% menjadi 25.053,11, S&P500 naik 1,92 poin atau 0,07% menjadi 2.709,8 dan Nasdaq Composite menambahkan 9,71 poin atau 0,13% menjadi 7.307,91.

Indeks S&P500 dan Nasdaq menambah keuntungan nominal sementara blue chip Dow melemah. Baik Beijing dan Washington menyatakan optimisme tentang negosiasi perdagangan antara dua ekonomi terbesar dunia, bahkan ketika misi Angkatan Laut AS di Laut Cina Selatan yang disengketakan memicu kemarahan China.

Di Washington, para pemimpin kongres berusaha mencapai kesepakatan mengenai pendanaan keamanan perbatasan dalam upaya untuk mencegah penutupan pemerintah lain.

Volume perdagangan bursa saham AS mencapai 6,23 miliar saham. Turun dibandingkan dengan rata-rata volume perdagangan 20 hari terakhir yang sebesar 7,43 miliar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

EquityWorld Futures

PT EquityWorld Futures : Harga Gas Elpiji 3 Kg Berbeda-beda, Ini Penjelasan Menteri ESDM

EquityWorld Futures – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan menegaskan, harga gas elpiji 3 Kg sudah sesuai dengan eceran di pasaran.

Hal ini disampaikan saat Menteri Jonan melakukan rapat kerja dengan Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) ditemani dengan wakilnya Archandra Tahar serta Dirut PT Pertamina Nicke dan Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto.

Saat rapat bersama dengan DPR tersebut, Anggota Komisi VII DPR RI Muhammad Nasir mempertanyakan harga gas elpiji yang tidak merata pada beberapa wilayah dan kerap selalu berubah.

“Kita minta dijelaskan dari menteri atau wamen atau direksi terkait harga yang tidak menetap,”

Menteri ESDM Ignasius Jonan menerangkan harga gas elpiji 3 kg yang ditetapkan pemerintah sudah masuk perhitungan subsidi yang diberikan. “Subsidi itu dihitung berdasarkan harga eceran,”

Dalam kesempatan yang sama Dirut PT Pertamina Nicke menambahkan, jika memang ada harga gas yang berbeda, pihaknya telah memberikan fasilitas pengaduan untuk hal tersebut, sehingga, perseoran akan mengkajinya dimana hal itu terjadi.

Diterangkan juga bahwa alokasi elpiji 3 kg telah dikerjasamakan antara Pertamina dengan pihak agen. Di mana, ada penunjukan pangkalam-pangkalan oleh pihak agen. Di mana, distribusi ini sudah ditetapkan oleh pemda mengenai harganya.

“Penetapan harga yang sampai di masyarakat itu ditetapkan oleh agen-agen dan kita juga ada proses monitoring dari kita dan dirjen Migas. Kita juga sudah membagikan Call centre jika menemukan harga atau ketersediaan yang tidak sesuai,”

Ditambah pihak ESDM mengutarakan, pengawasan harga yang dijangkau hanya sampai pada pihak agen dan selebihnya diatur oleh Pemda. Sedangkan tingginya harga elpiji 3 kg dikarenakan beberapa sebab, salah satunya adalah kelangkaan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

EquityWorld Futures

PT EquityWorld Futures : BI Prediksi Inflasi Minggu Pertama Februari 0,07%

EquityWorld Futures – Bank Indonesia (BI) memperkirakan inflasi minggu pertama Februari 2019 sebesar 0,07% secara month to month(mtm). Hal tersebut berdasarkan Survei Pemantauan Harga (SPH) yang dilakukan BI.

“Berdasarkan survei pemantauan harga Minggu pertama Februari, kami perkirakan inflasi 0,07% mtm. Dan kalau year on year (yoy) 2,72%,”

Dia menjelaskan, berdasarkan survei pemantauan harga kemungkinan bahwa inflasi Februari lebih rendah dari inflasi bulan Januari. Di mana inflasi Januari adalah 0,32% mtm dan 2,82% yoy.

“Ini mengkonfirmasi perkiraan kami akhir tahun ini, akan lebih rendah dari titik tengah sasaran inflasi yaitu 3,5%. Semua penyumbang inflasi berbagai harga itu terkendali,” tuturnya.

Sebagai informasi, selama 2018 ini angka inflasi rendah dan bisa terkendali. Bahkan bisa dibawah target inflasi yang ditetapkan BI yakni 3,5% plus minus 1%.

Pada 2018 inflasi tercatat 3,13% (yoy) atau berada dalam kisaran sasarannya selama empat tahun terakhir. Inflasi yang terkendali dipengaruhi inflasi inti yang terjaga pada level rendah sejalan dengan konsistensi kebijakan BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengarahkan ekspektasi inflasi.

Inflasi volatile food juga terkendali ditopang oleh pasokan pangan yang terjaga dan pengaruh harga pangan global yang menurun. Kemudian inflasi administered prices tercatat rendah sejalan dengan minimalnya kebijakan terkait tarif dan harga barang dan jasa yang diatur pemerintah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

EquityWorld Futures

PT EquityWorld Futures : Fitch Rating Beri Peringkat AAA untuk Obligasi XL

EquityWorld Futures – Lembaga pemeringkat PT Fitch Ratings Indonesia menetapkan peringkat nasional jangka panjang AAA (idn) atas penerbitan obligasi PT XL Axiata Tbk(EXCL) Rp1 triliun dengan prospek stabil dan sukuk ijarah sebesar Rp1 triliun. Informasi tersebut dilansir dari Harian Neraca.

Penerbitan ini adalah tahap kedua dari rencana obligasi berkelanjutan dengan total nilai sebesar Rp5 triliun dan sukuk berkelanjutan Rp5 triliun yang telah diafirmasi dengan ratingAAA(idn) pada 7 Januari 2019. EXCL akan menggunakan dana dari penerbitan ini untuk membiayai belanja modal yang terkait jaringan seperti pembelian base-station subsystem dan peralatan fibre-optic transmission.

Christie Pardede, peringkat dua instrumen itu sama dengan peringkat nasional jangka panjang XL di level AAA(idn) dikarenakan risiko gagal bayar dari surat-surat utang senior tanpa jaminan ini setara dengan peringkat XL dan sesuai dengan definisi peringkat dari Fitch.”Peringkat juga mempertimbangkan struktur dan dokumentasi sukuk,”

Menurut Fitch, peringkat nasional di kategori AAA menunjukkan peringkat tertinggi yang diberikan Fitch pada skala peringkat nasional untuk Indonesia. Peringkat ini diberikan kepada emiten atau surat utang dengan ekspektasi risiko gagal bayar yang terendah relatif terhadap emiten atau surat utang lainnya di Indonesia.

Dalam pertimbangannya, Fitch menilai peringkat surat utang ini juga didorong peringkat dari induk usahanya, Axiata. Dimana peringkat XL di BBB merefleksikan keunggulan kredit dari induknya dengan kepemilikan saham 66,4% dan berbasis di Malaysia, Axiata Group Berhad. ”Penilaian kami terhadap Axiata menggabungkan ekspektasi bahwa grup akan terus mengelola kebutuhan investasi untuk mempertahankan kekuatan kreditnya, walaupun marjin melemah dikarenakannya menurut penilaian kami,”

Selain itu, pertumbuhan EBITDA grup Axiata juga menjadi pertimbangan. Investasi yang tinggi dan pengembalian kepada pemegang saham memberikan tekanan terhadap arus kas bebas perusahaan. Kami mungkin dapat mengambil tindakan pemeringkatan negatif jika hal ini tidak terjadi, yang akan mengarah pada tindakan yang terkait di level XL.”

Tak hanya itu, Fitch juga menekankan adanya leverage perusahaan yang lebih tinggi. “Fitch memperkirakan FFO [fundsfromoperation] adjustednet leverage naik di sekitar 2,5x di tahun 2019 dan 2020, sementara pada 2017 di level 2,3x.” Fitch menekankan bahwa laju deleveraging EXCL cenderung melambat, dengan meningkatnya tekanan belanja modal dengan dilanjutkannya ekspansi, dan pertumbuhan EBITDA yang moderat.

Sebagai informasi, Hutang XL, termasuk utang lease liabilities adalah Rp15 triliun hingga akhir September 2018, pinjaman dalam dolar AS terdiri dari pinjaman bank sebesar USD300 juta jatuh tempo di tahun 2019, yang telah terlindung hingga jatuh tempo, mengurangi eksposur terhadap fluktuasi valuta asing.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

EquityWorld Futures